Tampilkan postingan dengan label Bunga Dahlia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bunga Dahlia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

Mengenal Umbi Bunga Dahlia dan Kandungannya

0 komentar
Tengoklah apakah di pekarangan rumah Anda ada tanaman bunga Dahlia yang indah dan menakjubkan? Bunga Dahlia ini memiliki karakter fisik yang indah dan warna yang beragam seperti ungu, kuning, jingga, putih, dan kombinasinya.

Sejauh ini, pemanfaatan bunga Dahlia hanya sebatas untuk pembibitan saja. Padahal, umbinya mengandung zat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Umbi bunga Dahlia mengandung inulin yang merupakan polimer dari unit-unit fruktosa. Inulin ini merupakan salah satu komponen bahan pangan yang memiliki kandungan serat sangat tinggi.

Inulin memiliki sifat larut dalam air dan tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan. Inulin ini memiliki fungsi sebagai probiotik. Probiotik ini ialah komponen yang berfungsi sebagai substrat mikroflora yang menguntungkan di dalam usus.

Komponen pangan yang memiliki sifat prebiotik antara lain laktulosam, galaktooligosakarida, inulin, dan juga fruktooligosakarida. Inulin ini memiliki banyak manfaatnya.

Dalam bidang farmasi, inulin biasanya digunakan untuk melakukan uji fungsi pada ginjal. Pada bidang pangan, inulin merupakan pengganti lemak dan gula pada produk-produk makanan yang rendah kalori.

Inulin dapat mencapai usus besar tanpa mengalami perubahan struktur karena memiliki sifat yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan.

Meski demikian, ternyata inulin dapat mengalami fermentasi akibat aktivitas mikroflora yang ada di dalam usus besar dan berimplikasi positif pada kesehatan manusia.

Peningkatan kekebalan tubuh akan meningkat berkat inulin yang difermentasi di dalam usus besar menjadi asam-asam lemak sehingga semakin banyak kandungan inulin di dalam tubuh akan berdampak pada makin bertambahnya sistem kekebalan pada tubuh manusia.

Asam laktat yang dihasilkan dari proses fermentasi inulin juga berfungsi dalam mencegah terjadi konstipasi dan meningkatkan penyerapan (absorbs) kalsium untuk mencegah terjadinya proses osteoporosis. Makanya, karena perannya sebagai pencegah osteoporosis ini inulin kerap digunakan dalam produk-produk susu formula.

Penggunaan inulin ini sudah diterapkan dalam industri pangan yang segmen usahanya memproduksi makanan-makanan ringan yang dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja.

Hal tersebut dianggap sangat menguntungkan karena segmen pasar tersebut (anak-anak dan remaja) memiliki kecenderungan memiliki pola makan yang tinggi kalori dan rendah serat pangan.

Pola makan demikian apabila tidak segera ditanggulangi dapat menimbulkan resiko munculnya obesitas sehingga untuk mengurangi kadar kalori, konsumsi inulin dapat digunakan sebagai pengganti lemak karena memang inulin hanya mengandung kalori 1,5 kcal/ Gramnya. Inulin juga dapat digunakan untuk pengadaan produk-produk makanan seperti cake, cookies, bubur bayi, jeli, es krim, dan lainnya.

Pemanfaatan Bunga Dahlia

Kandungan inulin yang berasal dari bunga Dahlia ini bisa dikembangbiakkan dengan tiga cara yakni setek (vegetatif), benih (generatif), dan juga memperbanyak vegetatif dengan umbi. Dan untuk saat ini, yang paling banyak dikembangkan ialah metode dengan kultur jaringan.

Bunga Dahlia berdasarkan jenis bunganya, terdapat setidaknya 12 jenis dan sejauh ini telah banyak dikembangkan menjadi ratusan macam untuk tanaman pot dan bunga potong. Umbi bunga ini dapat dipanen ketika usia tumbuhannya minimal sudah menginjak tujuh bulanan.

Pertanyaannya? Apakah semua umbi bunga Dahlia ini mengandung inulin? Pada dasarnya, setiap umbi bunga ini mengandung inulin meskipun berbeda dalam kadar dan juga sifatnya.

Kadar air umbi segar ialah 79-88 % dengan kandungan inulinnya sekitar 5,9-16,3%. Sedangkan biasanya inulin yang terekstrak hanya sekitar 4,3% saja.

Dengan demikian, bertambah lagi tanaman yang memiliki manfaat besar buat kesehatan. Bunga Dahlia yang mengandung inulin bisa menjadi alternatif pengobatan bagi Anda yang sudah merasa bosan dengan konsumsi obat-obatan yang mengandung bahan-bahan kimia. Konsumsi inulin dalam jangka panjang tak akan berdampak buruk, sebaliknya akan memberikan dampak positif bagi tubuh.

Informasi lengkapnya di: http://www.deherba.com/mengenal-umbi-bunga-dahlia-dan-kandungannya.html
Read more...

Minggu, 09 Desember 2012

Bunga Dahlia, Inulinnya Turunkan Tensi dan Kolesterol

0 komentar
Bunga dahlia tidak hanya sebagai bunga hias, tetapi juga berfu­ngsi untuk obat-obatan dan pangan. Namun sejauh ini, masyarakat belum mengetahui secara pasti manfaat apa saja yang terkandung dalam bunga hias tersebut.

Berdasarkan penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), umbi bunga dahlia mengandung inulin sebesar 3,8 persen. Inulin berfungi mencegah kanker usus, kelebihan kolestrol dan menurunkan tekanan darah tinggi.

Hal itu diungkapkan peneliti LIPI Dr. Didik Widyatmoko, Msc dalam sosialisasi dan seminar “Membangkitkan Potensi Dahlia sebagai Sumber Estetika Lingkungan, serta Menunjang Perekonomian dan Kesehatan Masyarakat” di Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi, Kamis (29/11).

Menurut Didik, Inulin yang terkantung dalam umbi bunga dahlia, merupakan polimer dari unit-unit fruktosa. Inulin ini merupakan salah satu kom­ponen bahan pangan yang memiliki kandungan serat sangat tinggi.

Secara umum, memiliki sifat larut dalam air dan tak dapat dicerna enzim-enzim pencernaan. Inulin ini ju­ga memiliki fungsi sebagai pro­biotik yang berfungsi sebagai substrat mikroflora menguntungkan di dalam usus.

Untuk itu, ia berharap agar Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam dan Solok Selatan, se­gera menyosialisasikan kepada masyarakat terkait penting dan menguntungkannya membudidaya inulin. ”Ketiga daerah ini, cocok ditanami bunga dahlia karena letaknya berada di atas 700 meter dari permukaan laut,” kata Didik Widyatmoko.

Selain untuk obat-obatan, bunga dahlia juga tinggi nilai ekonomisnya, seperti inulin yang dihasilkan. Berdasarkan perhitungan LIPI, jika dalam lahan satu hektare ditanami 20.000 bibit bunga dahlia, maka setahun menghasilkan inulin 750 kg dengan harga sekitar Rp10 juta/kg.

“Jika dikalkulasikan, maka keuntungan menanam bunga dahlia di lahan satu hektare saja, mencapai Rp7, 5 miliar. Itu baru harga Rp10 juta. Berdasarkan harga inulin di pasaran, mencapai Rp30 juta per kilogram, tapi tergantung kualitasnya,” beber Didik.

Nanang Suryana, peneliti LIPI lainnya juga mengakui kandungan inulin dari bunga dahlia bisa dikembangbiakkan dengan tiga cara yakni setek (vegetatif), benih (generatif), dan juga memperbanyak vege­tatif dengan umbi. “Untuk saat ini, yang paling banyak dikem­bang­kan adalah metode kultur jaringan,” ungkap Nanang.

Nevi Irawan Prayitno mengatakan Bukittinggi dan Agam sudah mencanangkan bunga dahlia akan diproduksi untuk inulin, bukan hanya untuk tanaman hias. Bahkan untuk di Bukittinggi sendiri, pihaknya sudah mencanangkan Kota Bukittinggi menjadi The City Of Dahlia.

Sejak The City Of Dahlia dicanangkan, kata Nevi, sejumlah kawasan di Bukittinggi sudah menjadi taman bunga dahlia, seperti di Jam Gadang Bukittinggi, sejumlah taman sekolah dan taman per­kan­toran. “Semuaanya, sudah ditanami dahlia,” katanya.

Sumber : http://www.sehatnews.com/2012/12/06/bunga-dahlia-inulinnya-turunkan-tensi-dan-kolesterol/#nogo
Read more...

Rabu, 05 Desember 2012

LIPI: Inulin Bunga Dahlia Cegah Kanker Usus

0 komentar
Bunga dahlia tidak hanya sebagai bunga hias, tetapi juga ber­fu­ngsi untuk obat-obatan dan pangan. Namun sejauh ini, masyarakat belum mengetahui secara pasti manfaat apa saja yang terkandung dalam bunga hias tersebut. Berdasarkan penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), umbi bunga dahlia me­ngan­dung inulin sebesar 3,8 persen. Inulin berfungi mencegah kan­ker usus, kelebihan ko­lestrol dan menurunkan tekanan da­rah tinggi.

Hal itu diu­ng­kap­kan pe­neliti LIPI Dr. Didik Wid­yat­moko, Msc dalam so­sia­lisasi dan seminar “Membangkitkan Potensi Dahlia sebagai Sumber Estetika Lingkungan, serta Menunjang Perekonomian dan Kesehatan Masyarakat” di Istana Bung Hatta, Bukit­ti­nggi, kemarin (29/11).

Seminar yang diadakan Komunitas Dahlia Saligurasi itu, dibuka Pembina Ko­mu­nitas Bunga Dahlia Sumbar Ny Nevi Irwan Prayitno, Ketua Komunitas Dahlia Saligurasi Yenni Rista Santoso, Bupati Agam Indra Catri, sejumlah pejabat SKPD dan peserta dari Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam dan Solok Selatan.

Menurut Didik, Inulin yang terkantung dalam umbi bunga dahlia, merupakan polimer dari unit-unit fruktosa. Inulin ini merupakan salah satu kom­ponen bahan pangan yang memiliki kandungan serat sangat tinggi. Secara umum, memiliki sifat larut dalam air dan tak dapat dicerna enzim-en­zim pencernaan. Inulin ini ju­ga memiliki fungsi sebagai pro­biotik yang berfungsi se­ba­gai substrat mikroflora me­­­ng­untungkan di dalam usus.

Untuk itu, ia berharap agar Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam dan Solok Selatan, se­gera menyosialisasikan kepada masyarakat terkait penting dan menguntungkannya mem­­budidaya inulin. ”Ketiga daerah ini, cocok ditanami bunga dahlia karena letaknya berada di atas 700 meter dari permukaan laut,” kata Didik Widyatmoko.

Selain untuk obat-obatan, bunga dahlia juga tinggi nilai ekonomisnya, seperti inulin yang dihasilkan. Berdasarkan perhitungan LIPI, jika dalam lahan satu hektare ditanami 20.000 bibit bunga dahlia, maka setahun menghasilkan inulin 750 kg dengan harga sekitar Rp10 juta/kg.

“Jika dikalkulasikan, maka keuntungan menanam bunga dahlia di lahan satu hektare saja, mencapai Rp7, 5 miliar. Itu baru harga Rp10 juta. Berdasarkan harga inulin di pasaran, mencapai Rp30 juta per kilogram, tapi tergantung kualitasnya,” beber Didik.

Nanang Suryana, peneliti LIPI lainnya juga mengakui kandungan inulin dari bunga dahlia bisa dikembangbiakkan dengan tiga cara yakni setek (vegetatif), benih (generatif), dan juga memperbanyak vege­tatif dengan umbi. “Untuk saat ini, yang paling banyak dikem­bang­kan adalah metode kultur ja­ringan,” uangkap Nanang.

Ny Nevi Irawan Prayitno mengatakan Bukittinggi dan Agam sudah mencanangkan bunga dahlia akan diproduksi untuk inulin, bukan hanya untuk tanaman hias. Bahkan untuk di Bukittinggi sendiri, pihaknya sudah men­cana­ngkan Kota Bu­kit­tinggi men­jadi The City Of Dahlia.

Sejak The City Of Dahlia dicanangkan, kata Nevi, se­jum­lah kawasan di Bu­kit­tinggi sudah menjadi taman bunga dahlia, seperti di Jam Gadang Buki­t­tinggi, sejumlah taman sekolah dan taman per­kan­toran. “Se­muaanya, sudah ditanami dah­lia,” katanya.

Sumber : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=37850
Read more...

Selasa, 04 Desember 2012

Bunga Dahlia dan Manfaat Bagi kesehatan

0 komentar
Manfaatnya Bunga Dahlia
Bunga Dahlia, merupakan salah satu bunga hias yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tanaman ini adalah tanaman perdu berumbi yang sifatnya tahunan (perenial) berasal dari meksiko, yang di tempat asalnya berbunga di musim panas sampai musim gugur. Dahlia adalah bunga nasional negara Meksiko yang juga merupakan negara asal bunga ini.

Dahlia termasuk bunga yang terlambat dikembang-biakkan secara komersial. Baru pada tahun 1872, negeri Belanda menerima sekotak umbi Dahlia yang dikirim dari Meksiko. Dari sekotak umbi bunga Dahlia ternyata hanya satu umbi yang berhasil berbunga namun menghasilkan bunga indah berwarna merah dengan daun bunga yang runcing. Ahli tanaman berhasil mengembang biakkan Dahlia yang kemudian dinamakan Dahlia juarezii. Dahlia juarezii merupakan nenek moyang semua bunga Dahlia hibrida (persilangan) yang terdapat sekarang ini.

Dinamakan Dahlia dimaksudkan untuk menghormati ahli botani berkebangsaan Swedia dari abad ke-18 yang bernama Anders Dahl. Dahlia juga merupakan bunga resmi kota Seattle, negara bagian Washington, Amerika Serikat.

Manfaat Bunga Dahlia yang kita kenal sekarang terdiri dari ratusan kultivar. Sebagian besar varietas tanaman Dahlia menghasilkan bunga yang warnanya cerah dan mempesona, sehingga Dahlia merupakan komoditas penting bagi industri bunga potong dan tanaman pot.

Manfaat Obat Umbi Bunga Dahlia
Inulin yang dikembangkan dari umbi dahlia (Asteraceae), diluncurkan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim pada peringatan 159 tahun Kebun Raya Cibodas, 11 April 2011.

Inulin tak ubahnya serat pangan terlarut. Tidak dicerna enzim pencernaan, melainkan difermentasi mikroflora di dalam usus besar. Selanjutnya, menjadi prebiotik yang menghambat bakteri patogen atau sel kanker usus, meningkatkan penyerapan kalsium, dan beragam fungsi lainnya.

Bila masyarakat selama ini lebih mengenal dahlia karena keindahan bunganya—yang terdiri atas warna merah muda, merah tua, putih terang, putih gelap, kuning, dan jingga, Kebun Raya Cibodas tertarik pada manfaat umbinya.

”Penelitian inulin dari umbi dahlia sejak tahun 2009. Inulin umbi dahlia tergolong paling baik dibanding inulin yang selama ini 100 persen masih diimpor industri kita dari Belgia, Australia, India, dan China untuk meningkatkan kualitas produk makanannya,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Cibodas Didik Widyatmoko.

Inulin digunakan pada berbagai produk pangan. Misalnya, susu instan untuk anak-anak maupun dewasa atau lanjut usia. Pada susu instan anak-anak, inulin memberi manfaat meningkatkan daya serap tubuh terhadap kalsium yang menunjang pertumbuhan tulang dan gigi.

Pada susu instan dewasa dan lanjut usia, kemampuan inulin meningkatkan penyerapan kalsium yang akan mencegah osteoporosis atau pengeroposan tulang. Pendek kata, peran inulin penting.

Beberapa industri menyertakannya dalam produk es krim dan yoghurt. Bahkan, di Eropa sudah mulai dikemas produk inulin untuk menambah cita rasa kopi.

Prebiotik
Inulin merupakan polimer dari unit-unit fruktosa dengan serat pangan yang mencapai 90 persen. Inulin berfungsi sebagai prebiotik karena menjadi komponen pangan substrat mikroflora yang menguntungkan di dalam usus.

Komponen pangan lain yang mempunyai sifat prebiotik, antara lain fruktooligosakarida, galaktooligosakarida, dan laktulosa. Setelah dikonsumsi, senyawa inulin mencapai usus besar dalam keadaan struktur yang tidak berubah. Namun, inulin segera difermentasi mikroflora yang ada di dalam usus besar.

Inulin difermentasi menjadi asam lemak rantai pendek dan dari beberapa mikroflora spesifik akan dihasilkan asam laktat. Kondisi demikian menurunkan derajat keasaman (pH) pada usus besar. Asam laktat di dalam usus besar merangsang gerak peristaltik usus. Itu mencegah konstipasi atau sembelit.

Selain itu, keberadaan asam laktat dan asam lemak rantai pendek di dalam usus besar mampu meningkatkan penyerapan kalsium. Manfaat inulin meningkatkan kalsium itulah yang paling banyak diharapkan untuk aplikasi teknologi pangan.
Peluncuran inulin dari umbi dahlia itu merupakan riset kerja sama pengelola Kebun Raya Cibodas dengan Pusat Penelitian Kimia yang dipimpin Sri Pudji Praharti. ”Inulin impor selama ini tak pernah dari umbi dahlia,” kata Didik. Inulin impor mayoritas dihasilkan dari umbi artichoke (Helianthus tuberosus) dan chicory (Chicoryum intybus L).

Tergolong langka
Inulin umbi dahlia masih tergolong langka. Begitu pula ketersediaan umbi dahlia yang juga terbatas. ”Inulin umbi dahlia ini jauh lebih mahal dibanding inulin impor dari bahan baku chicory. Inulin chicory untuk setiap 25 kilogram seharga Rp 1 juta,” kata Didik. Harga inulin dari umbi dahlia mencapai Rp 7 juta per kilogram (kg).
Didik mengatakan, untuk menunjang pasokan bahan baku umbi dahlia saat ini, LIPI menyiapkan kebun seluas dua hektar di Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat. ”Saat ini lokasi paling cocok hanya di dua tempat, yaitu Selabintana dan Lembang,” kata dia. Dahlia diyakini berasal dari Meksiko. Dahlia cocok tumbuh di ketinggian 700 meter sampai 1.000 meter di atas permukaan laut. Namun, semua lokasi dengan ketinggian tersebut ternyata tak bisa serta-merta menjadi habitat dahlia. Sebagai contoh, pada ketinggian yang sama di Jawa Timur, dahlia sulit tumbuh dengan baik. Hal itu menjadi tantangan penelitian lebih lanjut.

”Dari area satu hektar bisa menghasilkan 25 ton sampai 20 ton umbi dahlia. Satu batang pohon dahlia bisa menghasilkan 2 kilogram sampai 5 kilogram,” ujar Didik. Rendemen umbi dahlia mencapai 7,5 persennya. Usia panen umbi dahlia sekitar tujuh bulan sampai satu setengah tahun.

Umbi dahlia mengandung 80 persen air dan 20 persen zat padat yang tersusun dari selulosa dan inulin. Pemisahan atau isolasi inulin menggunakan pelarut etanol. Umbi dahlia dikeringkan terlebih dahulu sebelum digiling menjadi bubuk.

Proses produksi
Inulin dapat diperoleh dengan cara pemasakan larutan umbi dahlia pada suhu 80–90 derajat Celsius selama 30 menit. Sejumlah riset menegaskan bahwa metode yang banyak digunakan untuk memperoleh inulin adalah metode ekstraksi umbi dahlia, lalu diendapkan dengan menggunakan air atau etanol.

Hasil ekstraksi inulin dapat ditambahkan arang aktif untuk memperoleh inulan yang berwarna lebih putih bersih. Arang aktif akan mengikat komponen warna, seperti tannin atau karbonil yang menimbulkan warna kecoklatan.

”LIPI sekarang sudah bermitra dengan dunia industri untuk memproduksi prebiotik inulin khusus dari umbi dahlia ini,” kata Didik.

Perusahaan swasta itu, menurut Didik, sekarang membuka diri bagi para pemasok umbi dahlia dari mana saja. Berapa pun pasokan umbi dahlia pasti diterima. Kondisi itu sangat baik.

Bagi para petani bunga, popularitas jenis bunga dahlia sekarang makin menurun. Sebab, harus berkompetisi dengan jenis bunga lain yang mirip dahlia yang dari beberapa segi bisa mengalahkan kualitas, seperti bunga krisan yang lebih tahan segar ketimbang bunga dahlia.

Inulin menjadi contoh hasil riset LIPI yang menjawab langsung persoalan, yaitu turunnya popularitas bunga dahlia. Hasil riset LIPI ini segera dapat diaplikasikan. Semoga saja inulin disusul riset-riset lain yang langsung berkontribusi nyata bagi masyarakat. Inulin hanya contoh kecil betapa pentingnya menjaga alam Indonesia dari kehancuran.

Referensi : cetak.kompas.com
http://dahlia-bunga.blogspot.com/2012/02/bunga-dahlia-dan-manfaat-bagi-kesehatan.html
Read more...