Jumat, 20 Juli 2012

Manfaat Benalu Teh untuk Kesehatan

0 komentar
Benalu teh dari spesies sburrula atropurpurea (BL) DANS merupakan tanaman parasit pada pohon teh (thea sinensis L). Berbagai spesies benalu sejak zaman dahulu telah digunakan untk mdncegah berbagai penyakit misalnya viscum album L varitecens MAKINO untk mengobati sakit pinggang dan jamu pasca melahirkan para ibu di Jepang, viscum album L untuk mengobati kanker di Korea dan Cina, bahkan dibeberapa Negara Eropa menjadi obat anti kanker nonkonvensional, dan dijual dengan nama dagang iscador.

Prof. Riky zee-cheng dalam tulisannya mengenai penelitian anti kanker tanamam benalu dalam jurnal Drogs of the future mengatakan, pasien penderita kanker yang diberi extrak bemalu dari spesies viscum album menunjukkan perbaikan pada DNA dalam limfosit dan sel kekebalan tubuh. Melalui berbagai penelitian yang disarikan oleh Zee-cheng dari pusat medik universitas kansas itu, senyawa bioaktif yang berperan sebagai anti kanker adalah petida, olgisakharida, alkaloid, polifenol dan flauvanoid.

Masyarakat indonesia secara turun temurun juga menggunakan benalu dalam bentuk jamu untk mengobati kanker, Dr. Retno Murwani MSc, dari Universitas Diponegoro pernah menyatakan bahwa benal u teh berkhasiat membunuh sel tumor, dan sel kanker fibro sarcoma (suara merdeka 14 mrt 2003) baru-baru ini melalui penelitian intensif selama 3th, tim peneliti dari badan tenaga atom nasional (batan) bekerjasama dg Prof. Hirotaka shibuya dari Universitas Fukuyama Jepang dan Prof. Dr. Mutsuko mukai dari osaka medical senter, jepang.

Dalam pendlitian ini tim telah mengisolasi 16 senyawa dari benalu teh yang merupakan parasit pohon teh di perkebunan teh gunung mas, cipanas Jawa barat. Senyawa tersebut adalah 6 senyawa asam lemak tak jenuh, 2 senyawa santin, 2 senyawa flavonol glikosida, 4 senyawa flavonol, 1 senyawa lignan glikosida, dan 1 senyawa monoterpene glukosida.

Hasil uji bioaktifitas terhadap invasi sel kanker MM1 secara invitor menggunakan sel kanker MM1 yang di isolasi dari sel ascites Hepatoma AH 130 pada tikus menunjukkan bhwa satu diantara senyawa tersebut yaitu, octadeca-8,10,12-triynoic acid mampu menghambat invasi sel kanker sebesar 99,4% pada konsentrasi 10 mg/ml. Senyawa ini merupakan asam lemak tak jenuh, mengandung atom karbon 18 dengan ikatan rangkap 3 sebanyak 3 buah pada posisi 8,10 dan 12.

Atas dasar pengujian tersebut, diyakini bahwa octadeca-8,10,12-triynoic acid merupakan zat aktif anti kanker yang terkandung dalam benalu teh. Namun, baik dengan metode pengujian invitor maupun invivo yang di kembangkan almarhum Prof. Hitoshi Akedo. Diketahui bahwa zat ini tidak membunuh sel kanker sehingga sel tidak mengalami metastasis.

Metode diatas berbeda dg uji yang lainnya, seperti penghambatan terhadap protein sintesis, DNA topoisomerase, DNA/RNA sintesis, uji toksisitas, dan lain-lain.

Hingga saat ini belum ada obat anti kanker yang bdkerjanya menghambat invasi sehingga penemuan senyawa octadeca-8,10,12-triynoic yang struktur kimianya relatif sederhana menjadi harapan desenlisnya senyawa anti kanker baru yang murah dan sangat dibutuhkan oleh penderita kanker di indonesia maupun di dunia pada umumnya.

Untuk meyakini bahwa asam lemak octadeca-8,10,12-triynoic acid tersebut mempunyai aktifitas inhibisi, dan untuk menpelajari efek dari panjang rantai atom karbon serta posisi ikatan rangkapnya, maka metode sintesis yang relatif sederhana, tim peneliti batan berhasil menyintesis lima senyawa analog alkynic C-16 tatty acid, yaitu, hexadec-8-ynoic acid (2) hexadec-10-ynoid acid (3) hexadeca-8,10-diynoic acid (4). hexadeca-6,8,10-triynoic acid, (5). Dan hexadeca-8,10,12-triynoicacid (6).

Uji broaktivitas dengan cara yang sama menggunakan sel kanker MM1 menunjukkan bahwa senyawa yang mengandung 3 ikatan rangkap tiga, seperti halnya senyawa yang di isolasi dari benalu teh, yaitu hexadeca-6,8,10-triynoid acid (5) dan hexadecadeca-8,10,12-triynoic acid (6) memberikan nilai inhibisi yang hampir sama dg senyawa 1, sedangkan senyawa 2, 3 dan 4, masing-masing mengandung satu dan dua ikatan rangkap tiga menberikan nilai inhibisi lebih rendah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tiga buah ikatan rangkap aktivitas penghambatan invasi sel kanker.
Dr. Hendig Winarno MSc.
Peneliti pada lab Argokimia Pusitbang Teknologi Isotop dan Radiasi Batan. Jakarta

Sumber : http://mypotik.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar