Kamis, 21 Juni 2012

Temu Putih Sebagai Pengobat Mium

0 komentar
Temu Putih (Curcuma zedoaria)
Tumbuhan ini populer sebagai rempah-rempah dan obat di dunia timur. Di Cina, temu putih telah lama digunakan dalam terapi kanker rahim. Ia pun diduga mampu meningkatkan efek mematikan sel kanker ketika melakukan radioterapi dan kemoterapi. Bahkan digunakan untuk bahan infus yang dimasukkan dalam aliran darah pasien.

Temu putih mengandung banyak senyawa kimia seperti: 1—1,5% minyak dasar yang terdiri dari d-borneol, d-camphene, d-camphor, cineole, curculone, curcumadiol, curcumanolide A dan B, curcumenol, curcumeone curcumin, curcumol, curdione, dehydrocurdione, alpha-pinene, getah perekat, zat tepung/kanji, damar, sesquiterpene, dan alkohol sesquiterpen. Menurut James A. Duke dalam buku Phytochemical Constituents of Grass Herbs and Other Economic Plants, rimpang serupa jahe itu juga mengandung tanin dan flavonoid.

Kandungan sesquiterpen berkhasiat antiradang. Sifat ini berhubungan dengan efek antioksidan. Kandungan tanin dan flavonoid diduga berkhasiat antitumor. Menurut hasil penelitian American Institute Cancer Reports, temu putih mengandung RIP (ribosome inacting protein), zat antioksidan, dan antikurkumin. RIP berkhasiat menonaktifkan pertumbuhan sel kanker, meluruhkan sel kanker tanpa merusak jaringan di sekitarnya, dan memblokir pertumbuhannya. Zat antioksidan berfungsi mencegah kerusakan gen, sementara zat antikurkumin berkhasiat antiradang.

Sejak zaman dahulu, zedoaire—sebutannya dalam bahasa Perancis—menjadi bahan ramuan herbal pahit untuk menyembuhkan pasien yang mengalami perut kembung (karminatif) dan g a n g g u a n pencernaan. Mekanisme cara kerja sifat pahit belum sepenuhnya dimengerti.

Namun, ada indikasi bahwa sifat itu merangsang sekresi kelenjar pencernaan dan memperkuat otot organ pencernaan melalui s i s t em saraf. Dengan demikian sistem pencernaan diperkuat sehingga merangsang pembentukan suatu zat yang mampu merangsang tonifikasi. Pada dosis lebih tinggi, sifat pahit itu mempengaruhi membran lambung dan usus. Terna ini juga banyak digunakan sebagai obat sakit perut, peluruh air seni, antidiare, antimual, antipiretik, dan pembersih bagi wanita usai melahirkan. Bagi yang mengalami halitosis (bau mulut), dapat diatasi dengan mengunyah rimpang temu putih. Orang Jerman menyadari bahwa sifat pahitnya mampu merangsang empedu dan membersihkan lemak yang terdapat pada hati.

Rimpang yang dilarutkan dalam alkohol—tinktur— berkhasiat mencegah kambuhnya suatu penyakit seperti malaria. Dapat juga digunakan untuk mengobati memar, borok atau bisul, dan penyakit kulit lain. Menurut buku Tumbuhan Obat, abu yang berasal dari rimpang segar dan masih hangat bersifat antiseptik, digunakan sebagai penutup luka.

Di Indonesia, tunas muda banyak dimanfaatkan sebagai sayur, sementara rimpang muda dimakan mentah atau dimasak. Daunnya memberi rasa pada makanan. Temu putih kerap ditumbuk dan dicampur dengan jahe atau kunyit untuk membuat pasta bumbu kari.

Di India, rimpangnya digunakan segar atau untuk acar. Bahkan, tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai pembuat parfum. Temu putih diduga berasal dari India timur laut. Budidayanya tersebar hingga Asia Selatan, Asia Tenggara, bahkan Cina dan Taiwan. Meski ada yang mengatakan ia tanaman asli India dan Indonesia, tetapi menurut dr Adji Suranto, salah seorang peneliti pada Asosiasi Pengembang Tanaman Obat Indonesia (APTOI), temu putih berasal dari Pegunungan Himalaya. Kerabat kunyit ini sampai ke Eropa berkat jasa orang Arab yang membawanya pada abad ke-16 sehingga populerpada abad pertengahan. Saat ini temu putih sangat jarang ditemukan di negara-negara barat lantaran tergantikan oleh jahe. Menurut buku Mrs. Grieve’s Modern Herbal, varietas komersial datang dari Cina, Bengal, Madras, Jawa, dan Cochin-Cina.

Tumbuh di daerah dengan ketinggian hingga 1.000 m dpl, di tanah berpasir dan berdrainase baik. Menurut Heyne dalam bukunya Tanaman Berguna Indonesia, temu putih tumbuh liar di Sumatera, hutan jati Jawa Timur, dan tumbuh secara umum di Jawa Barat. Anggota famili Zingiberaceae itu tidak tumbuh dalam rumpun. Tinggi tanaman 60—90 cm. Daun berbentuk panjang, lonjong, dengan ujung meruncing. Panjang pelepah daun 35—60 cm. Daun tak berbulu dan hijau dengan tulang daun ungu. Bunga majemuk, warna merah muda dengan panjang mahkota 3,5—4,5 cm. Herba ini memiliki rimpang besar, membulat dengan banyak cabang. Kulit luar tipis berwarna putih keabuabuan. Dalamnya perpaduan kuning pucat hingga kuning terang, mudah dipatahkan. Baunya seperti kapur barus dengan rasa hangat, aroma agak keras, agak pahit, menyerupai jahe.

Sumber : http://ruangwanita-dewi.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar